Tips untuk Masa Depan yang Lebih Baik

  1. Kedamaian hati
  2. . Ilmu Pengetahuan.

Salah satu cara meningkatkan ilmu pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Dengan membaca, kita makin banayak tahu, makin luas akan wawasan, dan kita makin luwes berinteraksi dengan orang lain. Sehingga dengan banyak teman banyak rezeki.

4. Cinta

Istilah heart breaker atau tukang gonta-ganti pacar biasanya menjadi kebanggan anak muda. Padahal jika kita memahami dan menghargai cinta, pasti akan muncul untuk menata masa kini.

5. Rezeki

Allah tidak pernah salah memberi rezeki, pasti sesuai kadar kerja keras kita. Mari sama-sama kita belajar untuk bekerja yang rajin ikhlas menerima byaran bobot pekerjaan kita. Tapi, jangan lupa untuk bekerja lebih keras, sehingga perlahan pengharagaan atas kerja kita bertambah

6. Keluarga

Belajarlah kebijakan orangtua, baik orangtua yang berhasil maupun orangtua yang gagal. Karena, setiap orangtua pasti punya pengalaman dan kebijaksanaan dalam membangaun keluarganya.

7. Iman adalah kunci utama kita menjalani hidup dan meraih masa depan. Kalau kita punya keimanan yang bersih dan yakin bahwa Allah tidak pernah mengkhianati hamba-Nya yang beribadah dan bekerja keras, kita akan mencapai kesuksesan yang berkah.

Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam mempersiapkan masa depan. Selalu berusaha dan berdoa, dan jangan takut gagal. Mereka yang tidak mencobalah yang tidak mengerti akan kesuksesan.

Semoga bermanfaat…

Mewaspadai Sifat Sombong

Setiap dari kita pasti pernah mendengar istilah “sombong”. Apa itu sombong? Sampai-sampai sifat ini dicap sebagai sifat yang dapat menjerumuskan seseorang ke lembah kebinasaan. Sifat ini juga yang menyebabkan Azazil terlempar dari barisan makhluk Allah yang terpilih. Sifat ini juga yang menyebabkan kaum ‘Ad, Tsamud dan kaum yang lainnya, Allah binasakan hingga tak bersisa. Sifat ini juga yang menyebabkan Fir’aun beserta bala tentaranya, Allah tenggelamkaan di lautan hingga tewas mengenaskan.

Rihlah “Ikhwanisme Camp” Part 1

Pada hari Jum’at, 30 Agustus 2019 rihlah perdana Saya bersama kawan-kawan “Ikhwanisme Camp” dengan tujuan 2 destinasi wisata di daerah sumut yaitu Bukit Gundul dan Sipolha pinggiran Danau Toba. Kami yang berangkat rihlah berjumlah 10 orang dengan kendaraan 5 sepeda motor, Jarak antara kota Medan dan destinasi yang akan kami tujuan memakan waktu sekitar 3-4 jam.

Kami berangkat dari kota Medan Bagda sholat Jum’at. Saya sendiri menaiki sepeda motor yang saya bawa dari kampung bersama senior saya di kampus yaitu bang Hasan Tanjung. Di perjalanan kami banyak mengobrol dan bertukar pikiran, sehingga tidak terasa kawan- kawan yang lain sudah berada jauh di depan kami sehingga kamipun tertinggal dibelakang . Hari mulai menunjukkan sisi gelapnya dan kawan-kawan yang lainpun mengabari kami agar segera cepat menyusul mereka, dan akhirnya Saya bersama bang Hasan menambah kecepatan laju kreta (penyebutan sepeda motor di kota Medan) sehingga dapat menyusul mereka yang sudah menuggu di daerah Berastagi.

Haripun sudah malam kami berhenti sejenak untuk sholat dan makan malam. Kamipun melanjutkan perjalanan yang tinggal satu jam setengah setengah lagi ke tempat destinasi pertama yaitu Bukit Gundul. Kami memilih Bukit Gundul untuk bermalam karena kita bisa mengaksesnya dengan kreta dan juga kita dapat menikmati sunrise dan samudera awan dari puncak Bukit Gundul. tidak terasa akan Lelah di perjalanan dan akhirnya kamipun sampai di pos Bukit Gundul. Untuk memasukinya kita harus membeyar Rp.10.000/Orang .

kamipun mulai bergerak dari bawah bukit dengan akses kreta. Jalan yang kami lalui cukup menantang karena jalan menuju puncak bukit sudah rusak dan ditambah batu-batu yang tidak beraturan lagi. Sesekali saya dan kawan lain yang dibonceng turun karena kreta sudah mulai berasap. Kamipun mulai berjalan di tengah gelapnya malam karena disana tidak ada penerangan dan kiri kanan merupakan pepohonan sehingga menambah kesan hutan di Bukit Gundul. Salah satu kawan kami yaitu bang Eko terpaksa mendorong kretanya karena karet mesin kretanya sudah kendor akibat jalan yang begitu menanjak. Saya dan kawan yang lainnyapun beristirahat di pinggir jalan menuju puncak.

Waktu menunjukkan jam 12 malam Saya melihat kawan-kawan sudah mulai keletihan dan sebagian sudah ada yang mengeluh “Apakah masih lanjut naik atau turun saat sudah berada setengah perjalanan menuju puncak. Dan kamipun menetapkan untuk tetap naik. Dan akhirnya kamipun sampai dipuncak dengan ucapan syukur dan suara nafas yang tidak beraturan dan gema takbirpun dikumandangkan. Segera kamipun memasang tenda karena di puncak bukit sangat dingin. Setelah tenda terpasng kamipun beranjak tidur karena sudah lelah diperjalanan

Ketika kami masih asyik dengan mimpinya masing-masing, bang Hasanpun membanguni kami untuk sholat Subuh dan kamipun beranjak dari tenda kebawah puncak sedikit untuk melaksanakannya. Alhamdulillah setelah selesai sholat kamipun disuguhkan dengan pemandangan sunrise dan samudera awan yang menakjubkan di atas bukit. Sayapun takjub melihat hal tersebut “Subhanallah” Ucap Saya. Jarang-jarang dapat view seperti ini. Lelah waktu perjalanan seakan terbayar lunas dengan pemandangan diatas bukit.

Bersambung…

photo Saya ketika di atas Bukit Gundul dengan background samudera awan

PATHFINDER

I. Title

Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial Juneman Ikatan Psikologi Sosial, Himpunan Psikologi

II. Introduction

Penulis artikel ini mencoba menjelaskan masalah transportasi perkotaan dengan menggunakan pendekatan psikologi sosial. Masalah besar pertama adalah tentang kemacetan lalu lintas,yang dianalisis dengan konsep Tragedy of the Commons (Hardin,1968). Kesulitan utama kedua adalah kecelakaan lalu lintas yangdianalisis oleh teori risiko Wilde (1982, 1998), Summala (1974, 1997), dan Fuller (2000). Penulis juga memberikan pengaruh ilusi kontrol, bias optimisme, dan locus of control pada pengambilan keputusan risiko. Selain itu, penulis menawarkan tiga solusi untuk setiap masalah dan solusi ditujukan untuk tingkat individu, tingkat budaya dan structural tingkat. Diharapkan tulisan ini akan memberikan kontribusi teoritis dalam subjek psikologi transportasi di Indonesia. Angkutan psikologi adalah bidang psikologi terapan yang relatif baru di Indonesia, dan belum ada banyak perhatian dan pengembangan yang diberikan untuk ini subjek tertentu. Diharapkan juga bahwa tulisan ini memberikan gagasan untuk kebijakan transportasi yang dibuat oleh pejabat pemerintah, terutama di Indonesia Kota-kota besar di Indonesia.

III. Topic Analysis

Academic Diciplines

Psychology

Social Psychology

Antrhopology

Transportation Psychology

Key Words Terms

Traffic-jam

Traffic accidents

Transportation psychology

Tragedy of the commons

Risks theory

Urban transport policies

Refrence Sources

Buku/ Books

Lokasi Tercetak : Restricted Resource

Perpustakaan memiliki banyak koleksi buku dan bahan bacaan lainnya dalam bidang Psikologi.

Buku-buku di klasifikasikan menurut nomor klas (DDC) sbb :

  • 150                               : Psychology
  • 152                               : Perception, Movement, Emotions, Psychology Drives
  • 153                               : Conscious Mental Processe and Intelligence
  • 154                               : Processe
  • 155                               : Diffrential and Developmental Psychology
  • 156                               : Comparative Psychology
  • 158                               : Applied Psychology
  • 297.019                        : Islam of Psychology
  • 297.261                        : Islam of Psychology
  • 302                                : Social Psychology
  • 370.15                          : Educational Psychology
  • 616.89                          : Abnormal Psychology
  • 781.1                            : Psychology Music
pdf

Daftar Buku yang berkaitan dengan bidang Psikologi  Klik disini 

E-journals

 2. Akses Terbuka (Open Access) Jurnal Internasional, hampir semua jurnal berikut terindeks oleh Scopus sbb:

 3. Akses Terbuka (Open Access) Jurnal Nasional

E-Books

 2. Database E-Book yang dapat diakses secara terbuka (Open Access) sbb:

Encyclopedias

Dictionaries

Scholarships

Awards

Review of My Research Process

Dari sisi kultural, Wilde (1985) telah memberikan empat pendekatan untuk mengurangi tingkat risiko sasaran pengendara (baca: mengurangi kejadian kecelakaan), yakni (1) meningkatkan penghargaan kepada perilaku aman (misalnya, dengan memberikan insentif), (2) menghukum perilaku yang berisiko atau tidak aman, (3) menurunkan keuntungan dari perilaku berisiko (misalnya, jangan memberikan sebutan “hebat” / heroism kepada perilaku tersebut), dan (4) menurunkan konsekuensi negatif dari perilaku aman (misalnya, jangan membiarkan terjadinya kehilangan waktu / time loss pada para pengendara yang berperilaku aman). Selanjutnya, Wilde dan Robertson (2002) menambahkan dua pendekatan lagi, yakni (1) memberikan penghargaan kepada pengendara yang tidak mengalami kecelakaan (misalnya, mengenakan premi asuransi yang lebih murah kepada pengendara yang tidak pernah melakukan klaim asuransi; hal ini disebut “noclaim bonus”), dan (2) menghukum pengendara yang mengalami kecelakaan. Namun demikian, teori ini tidak memperhitungkan regulasi/peraturan keamanan lingkungan, seperti rancangan jalan dan kendaraan (Hedlund, 2000; Rothengatter, 2002). Hal ini dapat dipahami karena asumsi teori ini adalah bahwa modifikasi lingkungan atau pengaturan perilaku pengendara tanpa mempengaruhi tingkat risiko sasaran adalah kesia-siaan belaka. Menurut Fuller dan Santos (2002), ketika tuntutan tugas (demands of the task) melampaui kapabilitasnya, dan pada saat yang sama pengendara tidak dapat melakukan apa-apa untuk mereduksi tuntutan tugas atau pun untuk meningkatkan kapabilitasnya, maka pengendara akan memilih untuk menghindari kondisi tersebut (kondisi tuntutan tugas yang berlebih). Hal ini menjelaskan paradoks mengapa intervensi keamanan yang bersifat membuat tugas menjadi mudah (misalnya meluruskan jalan yang tadinya berbentuk kurva) justru menyebabkan perilaku berisiko seperti peningkatan kecepatan oleh pengendara. Berdasarkan pengetahuan tersebut, maka intervensi keamanan yang bersifat membuat tugas nampak menjadi lebih sulit (misalnya, liukan/putaran “S”, leher jalan, pintu gerbang, penyempitan jalan) patut dipertimbangkan. Jadi diperlukan rancangan yang membuat tugas nampaknya lebih sulit daripada kesulitan objektifnya, sehingga pengendara dapat memperlambat laju kendaraannya. Hal ini dapat dikombinasikan dengan paparan peringatan data statistik kejadian kecelakaan lalu-lintas yang diletakkan di jalan. Pendekatan kombinatif ini diperlukan karena, sebagaimana dinyatakan oleh Baron, Byrne, dan Branscombe (2005), pesan-pesan yang berbingkai negatif (negatively framed) sebagai strategi preventif dan ditolak orang. Hal ini disebabkan karena pesan-pesan yang mencemaskan, dan menimbulkan afeksi ketakutan seperti itu bersifat mengancam diri (self) seseorang, sehingga dapat mengaktifkan mekanisme pertahanan (defense mechanism) dalam rangka mempertahankan citra diri (selfimage) yang positif; selanjutnya, hal ini mengganggu kemampuan orang untuk menaruh perhatian pada sebuah pesan untuk mengingat bahaya dari perilakunya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai